Suami Minta Hubungan Seks Setiap Hari

Suami Minta Hubungan Seks Setiap Hari

Ilustrasi

Muslimahzone.com – Masalahku ini memang sering dialami oleh banyak wanita. Masalahku tersebut adalah bahwa suamiku tidak pernah merasa cukup dalam melakukan hubungan seksual. Aku sendiri sudah merasa cukup hanya dengan tiga sampai lima kali dalam sebulan. Sementara suamiku selalu memintanya setiap hari!

Untuk menghidari terjadinya sejumlah masalah, dan demi mengharapkan keridhaan suami yang menjadi sumber keridhaan Allah SWT, maka dengan sangat berat hati akupun terpaksa melakukannya (melayaninya). Akan tetapi, suamiku tersayang tidak suka dengan kondisi seperti itu, dimana aku melakukan jima’ (secara terpaksa) hanya sebagai pengorbanan terbesar yang aku lakukan demi mempertahankan hidup berumahtangga, juga demi menyelamatkan nasib keempat anakku.

Akhirnya, suamiku selalu mengeluh, menggerutu dan mencaci kondisiku. Ia juga mulai mengancam akan menikah lagi dengan wanita lain. Inilah yang membuat aku ingin menjauh dari suamiku, dengan tujuan menghindari ketajaman lisan dan celaan yang dia lontarkan kepadaku.

Kondisinya sekarang, aku telah sampai pada tahap dimana aku benar-benar mengharapkan dia menikah lagi dengan wanita lain. Harapannya agar celaan dan lontaran hinaan dari suami kepadaku berhenti. Aku mohon nasehat untuk diriku dan untuk suamiku. Jazakumullah khary.

*Ukhty X di Syiria

Tanggapan Dr. ‘Amr Abu Khalil:

Saudariku yang terhormat, apakah disebut hidup berumah-tangga dimana kondisi seorang istri menganggap upaya untuk memenuhi hasrat seksual suami sebagai “pengorbanan terbesar”? Kehidupan rumah-tangga seperti apakah bila hari-hari penuh dengan cacian dan ancaman dari pihak suami? Hari-hari apakah disaat yang bersamaan istri menganggap sikap suaminya sebagai bentuk penghinaan?

Jangan bersikap seperti itu Saudariku. Sesungguhnya masalah ini membutuhkan instropeksi bersama dari kedua pihak dan membutuhkan waktu untuk melakukan koreksi dan perenungan. Pertanyaan yang perlu dijawab dalam permasalahan ini cukup banyak. Ketahuilah, sesuatu yang Anda keluhkan itu justru menjadi sesuatu yang diharapkan wanita-wanita lain.

Ada faktor psikologis yang menyebabkan seorang suami memiliki tuntutan hasrat seksual yang begitu tinggi, sementara istrinya memiliki hasrat seksual yang lebih rendah. Jadi tidak perlu membandingkan dengan oranglain, dan tidak perlu harus ada ancaman.

Persoalan hasrat seksual adalah persoalan pribadi yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Tidak ada keistimewaan sedikitpun pada orang yang memiliki hasrat seksual setiap hari, dibandingan mereka yang hasratnya  hanya muncul setiap pekan sekali atau sebulan. Tentunya selama hubungan seksualnya masih dalam batas-batas normal yang dikenal dimasyarakat. Perbedaan ini seharusnya menjadi suatu pendorong pasangan suami-istri untuk saling memahami, dan untuk saling memperhatikan kondisi psikologis pasangannya. Perbedaan ini harusnya menjadi ladang kebaikan untuk membangun kesepakatan, keserasian dan kedekatan. Bukan malah menjadi pemicu permusuhan. Ini poin pertama.

Poin yang kedua. Meskipun persoalan seks merupakan salah satu unsur pembentuk yang penting bagi kehidupan rumahtangga, tetapi masih banyak unsur-unsur pembentuk yang lainnya. Sebagai contoh, pergaulan yang baik atau mengemban tanggungjawab bersama merupakan ladang-ladang yang sangat luas bagi sepasang suami-istri untuk dapat saling memahami, meskipun salahsatu pihak memiliki kekurangan dalam masalah seksual. Dengan memperhatikan pergaulan yang baik, kekurangan yang ada pada pasangan pasti akan diterima. Artinya, Anda harus introspeksi diri terlebih dahulu dan mencurahkan segenap kemampuan untuk itu.

Apakah ada faktor-faktor tertentu yang menghalangi Anda untuk melayani suami Anda, sehingga Anda tidak dapat melakukan hubungan seksual? Apakah Anda mampu mengatasi sebagaian faktor tersebut atau bahkan sebagian besarnya? Jika Anda telah melakukan hal itu, kemudian suami Anda merasakan segenap jerih-payah yang telah Anda curahkan, maka dia pasti akan menghargai Anda. Jika semau upaya telah dilakukan, tetapi suami Anda tetap belum ridha, maka sebenarnya suami Anda tidak berhak untuk memberikan ancaman seperti itu (akan menikah lagi: ancaman poligami), karena sesungguhnya pernikahan kedua bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah tanggungjawab baru.

Apakah suami dapat memahami ketentuan seperti ini, lalu dia siap untuk mengemban tanggungjawabnya dengan baik, dimana dia menyadari betul bahwa dari pernikahannya yang kedua dia tidak hanya akan mendapat kesenangan dan dapat memuaskan hasrat seksualnya, tetapi juga akan memperoleh sejumlah tanggungjawab baru? Apakah dia benar-benar siap untuk mengemban semua itu tanpa sedikit pun mengurangi hak salah seorang istrinya dan juga hak-hak anak-anaknya? Jika memang sanggup menanggung semua itu, maka bertawakallah kepada Allah tanpa harus ada gertakan atau  ancaman.

Akan tetapi, Anda harus duduk bersama suami guna berbicara secara terus-terang dan berdialog, sehingga Anda berdua pun dapat saling memahami masalah yang terjadi secara rasional dan penuh tanggungjawab.  Lalu Anda dapat menerangkan kepada suami tentang gambaran kehidupan yang akan Anda berdua jalani dan menggambarkan kepada suami tentang tanggungjawab yang harus diembannya. Jika suami memperlihatkan ketidak-mampuannya untuk mengemban semua tanggungjawab tersebut, maka Anda harus memberitahukan kepada suami bahwa Anda berdua harus berusaha mencari solusi yang tepat bagi kehidupan Anda berdua; dan hal ini lebih baik daripada Anda harus bertengkar, saling mencaci, ataupun saling mengancam.

Kesimpulannya adalah bahwa respon yang diberikan oleh suami baik berupa ancaman ataupun membanding-bandingkan istrinya dengan wanita lain, tidak dapat diterima. Demikian dengan respon yang diberikan oleh istri, yaitu dengan menyuruh suami untuk menikah lahi juga tidak dapat diterima. Dalam hal ini, harus ada kesadaran dan pengembanan tanggungjawab yang baik dari kedua belah pihak untuk menghasilkan kondisi yang lebih baik. Dialog dan saling memahami merupakan jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah tersebut.

Semoga Allah memberi petunjuk dan kemampuan kepada Anda untuk mengambil keputusan yang tepat, da n semoga Allah juga menolong  Anda untuk mengubah sikap Anda dan bermusyawarahlah dengan suami Anda hingga kalian berdua mendapatkan solusi yang tepat. Sesungguhnya hanya Allahlah Dzat yang  mampu memberi taufik.

*Rubrik Tanya Tawab islamonline.net

(esqiel/muslimahzone.com)

Baca juga:

Bagaimana menurut Anda?

Kajian

Do’a Tahun Baru Hijriyah

Do’a Tahun Baru Hijriyah

MuslimahZone.com – Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, [...]

Syarat Ketika Wanita Kerja di Luar Rumah

MuslimahZone.com – Saat ini banyak wanita yang memutuskan untuk bekerja di luar [...]

Wanita Keluar Sampai Malam Hari

MuslimahZone.com – Saat ini kita menjumpai bahwa wanita sering beraktivitas dalam banyak [...]

Kesehatan

Polusi Udara Jalan Raya Pengaruhi Janin Ibu Hamil

Polusi Udara Jalan Raya Pengaruhi Janin Ibu Hamil

MuslimahZone.com – Wanita hamil yang terkena polusi tingkat [...]

Kesehatan Gigi yang Buruk Memicu Datangnya Penyakit Serius

MuslimahZone.com – Menjaga kesehatan mulut tampaknya sepele. Anda [...]

Lesu Saat Haid? Coba Makan Makanan Ini

MuslimahZone.com – Ketika menstruasi, kondisi tubuh wanita biasanya [...]